Abby cerita panjang lebar waktu akhirnya kita berhasil chatt.. Aku melihatnya mengerang-erang di webcam. Nggak sangka ternyata cewek super seperti Abby bisa kelimpungan juga karena cinta.
Setelah satu tahun pacaran, Abby membelah hatinya (kedengarannya seperti amoeba ya?) untuk Ray dan Killa. Bahayanya lagi, cowok ganteng bernama Killa ini nggak lain adalah sahabat kental Ray. Kemana-mana Ray dan Killa selalu berdua. Jarang banget berpisah. Biasanya mereka berpisah kalau Ray sedang menyalurkan kebutuhan biologis dan gelora masa mudanya dengan Abby. Itu juga cuma misah ruangan, alias tetap saja Killa ada dalam radius 200 meter. Mulanya Abby risih, aktifitas se private itu masih harus dihiasi dengan keberadaan Killa disana. Belum lagi Ray selalu memuji kehebatan Abby di ranjang, didepan Killa! Rasanya Abby seperti telanjang didepan umum!
“Tau ngga sih, rasanya kayak Maria Ozawa ditonton rame-rame!Ih…menjijikkan!” gerutu Abby padaku.
Entah kenapa, Killa terlihat seperti tak terganggu dengan kemesraan Abby dan Ray. Siapa sih yang tahan untuk tidak mencium dan memeluk cowok putih, wangi, bersih, manis dan penuh gairah? Abby selalu berusaha menunjukkan gairah cintanya pada Ray didepan Killa, tapi cowok itu terlihat menikmati ‘kebersamaan’ mereka bertiga. Nonton DVD bertiga di satu sofa, kemana-mana satu mobil, mengantar Abby siaran atau belanja, Killa-Ray menjadi pasangan yang serasi. Bahkan setiap Ray datang saat Abby kumpul dengan teman-temannya, Killa selalu ada disana. Untungnya Ray tidak terlihat seperti seorang biseks, dengan orientasi seksual yang sana-mau-sini-mau, sehingga Ray tidak pernah menjadi gunjingan orang saat berjalan dengan Killa dan Abby sekaligus. Killa sendiri juga tidak terlihat demikian. Mereka sempurna…
Tapi yang tidak sempurna adalah Abby. Disaat cinta Abby-Ray merekah dengan indahnya, Killa yang macho dan cool seolah bergentayangan dibenak Abby. Keseharian mereka yang selaluuu…bersama, membuat Abby jadi terbiasa membagi dirinya. Hanya masalah seks saja yang terlihat jadi pagar untuk Abby dan Killa. Tapi disemua pihak, Ray terlihat tidak keberatan kalau Killa menggantikan posisinya. Belakangan, saat Ray sudah mulai fokus dengan bengkel mobilnya yang tengah berkembang, Killa mendampingi Abby kemana-mana. Abby berpikir, ini adalah sisi kepribadian Ray yang tidak ditemuinya dari diri pacarnya itu. Killa yang cowok banget, terkesan manly dan selalu ada untuk dia dan Ray.
“Terus apanya yang heboh?Apanya yang urgent?” tanyaku tak sabar. Abby bercerita terlalu melo-dramatis, terlalu mendayu-dayu. Aku sudah tak sabar untuk tiba di pokok persoalan. Aku ‘kan bukan psikiater yang dibayar per jam sekian dolar untuk mendengar pasien termehek-mehek?
“Hah…nggak sabaran banget sih!Jadi gini loh..kemarin itu, pas aku akhirnya berhasil dapat tiket premier Jumper, akhirnya aku dan Killa nonton berdua. Di dalam bioskop aku refleks pegang tangan dia. Abis gimana, kebiasaan sama Ray sih. Ternyata, refleks yang lain juga ikutan. Refleks tubuh, refleks bibir..semuanya…jadi, kesimpulannya, aku sudah cium Killa…oya, untuk catatan: di bibir.” Jelas Abby. Aku diam cukup lama. Ehm, apa dayaku untuk memberi nasehat pada seorang Abby, kalau masalahku tidak jauh berbeda dengannya?
“Zee…?Hellowwww? Denger nggak sih? Aku cium Killa di bibir!” serunya setengah memekik. Aku menarik napas panjang.
“Heh, bocah. Memangnya hanya kamu yang perlu dikasihani? Aku juga sedang sekarat, tau! Aku sedang dalam zona berbahaya! Aku masuk kedalam teritorial peperangan, dan aku nekat berjalan di taman ranjau demi cinta manusia yang ngga jelas apa dia cinta aku atau enggak…”
“Loh, kok gitu sih? Bukannya kalian mau menikah?” tanya Abby.
“Sama siapa dulu…aku kan kesini bukan sama tunanganku…” jawabku tanpa dosa.
“So…?Siapa?”
“Ada cowok lain..Franco…”
“Aku perah kenal?” tanya Abby, suaranya meruncing karena ketertarikannya.
“Mungkin ya, mungkin tidak…”
“Astaga,Zee! Kalian kan…maksudku, kau kan mau menikah dalam tahun ini juga?” Abby mendadak panik, seolah lupa akan kemalangannya, atau mendadak bahagia karena ada yang lebih merana dari dia..
“Iya, mungkin. Aku merasa harus mengejar apa yang hatiku katakan, sebelum akhirnya aku menyesali pernikahan yang akan terjadi itu…” suaraku mendadak berat. Antara menyesal ada ditempat yang begitu jauh karena mencintai orang yang salah, dan kesal karena rasa cinta itu begitu menggelora dan nikmat.
“Wow…aku pikir Cuma aku yang sial dan merana..Tunggu dulu! Aku yang interlokal kan?! Terus nasibku gimana? Ray dan Killa harus kuapain nih?” Abby sadar akan pokok masalahnya. Aku nyengir mendengarnya.
“Abby, kalau hatimu merasa mantap jalan dengan Killa, kenapa harus bertahan dengan Ray? Kalau kau Cuma mau have fun dengan Killa, jangan terlalu lama. Kau harus tau, sebaik apapun hubungan laki-laki, mereka akan bertengkar karena seorang wanita. Jadi ngga menutup kemungkinan, meski Killa dan Ray kelihatannya best-buddies banget, mereka bisa aja saling ngejatuhin demi kau..”
“Jadi keputusannya gimana dong? Aku jalanin dulu dua-duanya?” desak Abby.
“Terserah juga sih…kalau kuat?kenapa enggak? Asal tau aja, kalau suatu saat Killa menuntut komitmen yang lebih darimu, jangan pernah nyesel karena udah membuka pintu gerbang hatimu. Laki-laki ngga selamanya bisa jadi mainan kan?Mereka punya ego, butuh pengakuan…hati-hati loh…”saranku.
“Terus, apa yang akan kau lakukan dengan Frans mu?” tanya Abby padaku.
“Belum tau..Aku masih ingin memikirkannya…”