Waktu dan tempat kadang mengganggu mobilitas seksual. Mungkin juga jetlag yang akhirnya menahan serbuan ciuman dan lidah-lidah yang saling berebut menari-nari dan tarik ulur di sekitar rongga mulut kemudian bertransformasi menjadi aktifitas seksual dewasa.
“ Sorry…” bibir itu akhirnya bisa terlepas dari mulutku. Aku terengah gerah, lemas, tak berdaya, namun libido tak kunjung naik. Aku nyerah deh!
“ Nggak apa-apa…Aku tau kamu sedang jetlag.. Mendingan kamu tidur. Aku disini…” Franco tersenyum menatap wajahku, yang mungkin warnanya sudah kuning kebiruan. Aku terdiam. Kusentuh wajahnya perlahan.
“Ada apa?” tanya Franco pelan. Matanya sayu menatap mataku, sambil tersenyum, sekali lagi.
“ Ngga ada apa-apa sih..Cuma ngga percaya aja, ada kau disini dan bibir itu habis melumatku..Rasanya mimpi…” jawabku sambil terus mengatur napas setelah sepuluh menit berolahraga bibir.
“Hei, membakar kalori juga bisa lewat berciuman kan?” aku menatap mata gelapnya didalam dekapannya.
“Yea..tapi nggak sangka bibirmu yang habis menempel disini…” tandasku. Franco terdiam, kali ini ganti meraba wajahku..bibirku… Degup jantungnya berdetak lembut di telingaku.
“Zee…apa kau benar-benar tergila-gila padaku, maksudku, apa kamu nggak membesar-besarkan perasaan itu? Kamu cuma bikin aku ge er aja kalii…Ya kan?” shit, kenapa membunuh suasana romantis sih!!
“ Apa kedatanganku kesini masih belum juga bikin kamu yakin kalo aku beneran tergila-gila sama kamu? Apa aku harus teriak-teriak di depan kedutaan sambil bawa spanduk bertuliskan ‘ I Love Franco’ untuk bikin kamu yakin bahwa perasaan yang ada di dada ini beneran, asli, original?” dengusku kesal.
“ Maksudku…rasanya kok kayak mimpi. Kayaknya kamu ngga bakalan pernah mungkin suka sama aku deh..maksudku, ngga mungkin se tergila-gila ini…”
“ Maumu aku ngapain? Cuma main-main, iseng, cari kegiatan pengisi waktu luang sebelum kawin sama tunanganku, gitu?”
“Bukan itu maksudku, Zee…dari dulu aku kirim sinyal suka sama kamu, tapi kamu ngga nanggepin. Sekarang, saat suasana ngga tepat begini, kamu malah datang ke aku sejauh ini, bener-bener ngga nyangka aja…” aku mendengar nada ge er dalam kalimatnyaaa!
“ Aku mendengus bau ge er nih….” sindirku. Spontan tubuhku menjauh dari dekapannya. Aku alergi orang GR!
“ Jangan gitu dong, Z! Aku Cuma ngga yakin aja! Ini semua kayak mimpi!” Franco berdiri dari duduknya.
“ Kayak mimpinya kamu itu merusak suasana romantis yang beberapa menit lalu tercipta deh!” aku ikut berdiri dan membantah dengan wajah nyinyir. Dasar rese!
“ Kalau kamu selalu ngga bisa nahan tantrummu, semua suasana indah bisa jadi berantakan tau!” tudingnya. Beraninya!
“ Aku? Tantrum? Emangnya aku anak 4 tahun! Coba ya, tadi siapa yang taro bibir di dalam mulutku, trus siapa yang mendadak bilang ‘kayak mimpi,’ ‘membesar-besarkan perasaan’…Tolong yah, untuk punya perasaan kayak gini aja aku ngga pernah mimpi, apalagi mau membesar-besarkannya!” oke, adrenalinku terpacu!
“ Loh, aku kan merasa tersanjung! Makanya aku bilang : APA KAMU NGGA MEMBESAR-BESARKAN PERASAAN AJA? Tau ngga sih makna yang tersirat didalamnya? Aku merendahkan diri! Bukannya GR!” peter pointer sudah mulai main tunjuk!
“ Kalau kamu merendahkan diri, itu bisa ada dua arti tauk! Kamu ngga PD atau kamu merasa aku ngga pantes buat kamu! Turunkan jari telunjukmu!” bentakku.
“Itu kesimpulan dari mana sih! Aku ngga pernah ngerasa gitu kok!” bantahnya.
“Udah deh! Emang salah banget nih aku kesini bela-belain dateng, untuk cowok yang ngga pernah bisa nangkep sinyal cinta dari cewek! Batu!”
“Eh, sori ya, cewekku banyak! Aku bukan batu!” wajah bangganya bersinar-sinar seolah ia berdiri dibelakang kampu disko yang gemerlap saat mengucapkan ‘cewekku banyak’!
“Pantes istri kamu minta cerai, kamu playboy!”
“ Kalo udah tau kenapa kamu tetep disini juga! Kenapa kamu dateng kesini!”
“Ngga tau! Makanya aku bilang aku pusing! Aku ngga tau kenapa aku ada disiniiiiii!!!!” teriakan terakhirku menghentikan segalanya. Kudorong tubuhnya saking kesalnya. Franco jatuh ke sofa, dan kami berguling sekali. Dan bibir itu kembali menyumbat mulutku, dan tiba-tiba kaosku terbang melayang..tangan-tangan berlomba saling meraba-raba dimana bentuk tubuh seolah saling dikenali…. Dan kemudian kami saling dorong ke atas tempat tidur, dan akhirnya..ha..akhirnyaa…. aktivitas seksual akan segera dimulai….!
Tak pernah disangka Franco benar-benar membuatku terbuai. Rasanya melayang menembus langit-langit saat dekapan, ciuman, dan rabaannya menjelajah tubuhku..dengus napasnya seolah ritme irama indah yang akan segera memacu tarian erotis dewasa kami..wow, pikiranku sudah mulai kemana-mana! Oke, rasanya cukup pemanasannya, kita langsung ke permainannya!
“Tunggu…” aku melepaskan pagutan bibir Franco dengan lembut. Franco menatapku tak mengerti. Dada bidang berbulunya seolah menatapku tak terima atas postpone mendadak ini.
“Sebentar…aku cari rubber dulu…dimana ya…” aku membungkuk meraih koperku, dan tak kutemukan disana. Aku beralih ke kotak make up di kamar mandi, biasanya ada beberapa bungkus pengaman yang selalu kuselipkan disana. Nggak ada! Aduh dimana sih benda-benda itu saat aku membutuhkannya!
Aku berlari ke sofa. Disitu ada tasku, mungkin disitu ada. Aku bongkar tas, kotak kecil tempat obat, dompet kecil tempat cadangan celana dalam, dompet berwarna kuning tempat aku menyimpan tampon, aku bongkar semuanya, tapi hasilnya nihil!
Aku membungkuk ke bawah sofa, kemudian merogoh-rogoh di bawah tempat tidur, tetap saja tidak ada! Aku ilfil berat!
“Zee…mungkin ini bisa ditunda nanti ya…atau kapan-kapan…” suara Franco yang resah membuyarkan konsentrasiku.
“Eh..kenapa?” tanyaku. Franco menunjuk kebawah perutnya, rupanya jagoannya sudah layu.
“Aduh…maaf…Aku Cuma mau cari itu…karet penggaman…aduh maaf, Frans…Sori…” rasa sesalku takkan pernah setinggi ini! Disaat semua siap sedia, aku malah membuyarkan segala kesempatan untuk bercinta dengan Franco karena sebungkus kecil karet pengaman sialan!
“ Nggak apa-apa…waktunya memang nggak pas, Zee…Nggak apa-apa….” Franco memunguti pakaiannya, mulai menata kembali keutuhan penampilannya. Aku menangis mendekap lutut telanjangku, mengutuk hilangnya karet pengaman sahabat baikku…IH!
Siang ini, Franco pulang ke rumahnya, dan aku tetap melanjutkan kegiatan sebelumya; menangis dan menyesal atas hilangnya karet pengamanku….ihiks….!!